Posts

Showing posts from October, 2017

Bunga Tidur

Pernahkah kamu melihat wajah bulan yang berubah menjadi purnama Pada saat nafas malam yang tersendat :Disanalah Tepatnya aku mendengar tangisan nelangsa Diatas kuburan tak bernisan Seperti memanggil kematianku Namun malaikat maut belum datang juga menjemputku Bersama tangisan anjing Melolong kesakitan Dan juga bersama satu cahaya lampu, satu cahaya bulan yang beratpkan awan hitam Kala itu Hingga pagi datang Angin masih menjadi nafas ketiadaan Bersama nyanyian burung pagi itu Nafasku masih sempurna di rongga hidung. :ini hanya sebuah mimpi Tentang kematian.

Sajak Cinta dan Angan

Image
Aku mencari namamu Diantara pasir putih Diantara ombak bergulung Diantara kapal yang menepi Namun sebercak jejakpun tak kujumpai Aku menyerah Pepohonan menyaksikanku meninggalkanmu Diantara detik waktu Dianatar lara dan pilu Rindu yang mau menumbuh Lekas kubunuh kubunuh Agar tak ada lagi kenang yang menghantuiku Biarlah ini menjadi kisah antara bebatuan yang mencoba berpelukan dengan tuhan.

Wajah Bulan

Image
Kala mendung Dipasi malam Wajah bulan Hancurkan petang Temani nyala lilin di tepian angan Tabir hitam Bergegas pergi Mendekap seluruh gelap Bernyanyi dalam sepi Berpaling dan menjadi intuisi harmoni Jika malam tak kunjung datang Titipkan salam kepadamu tuhan Dan jika bintang-bintang tak lagi bersinar Selipkan terang di ujung pagi.

Mendung

Samar samar Wajahmu terbayang Garisgaris dikelopak matamu Belahan tiap bibir bawahmu Garis keningmu Masih membayang Ahhh apakah aku merindukanmu? Bajingan betul rasa ini Ingin kumatikan Lalu kukubur dalamdalam Tapi Tetap saja Hatiku menang Logikaku menghilang Megariana Kau apakan diriku? Tak bisa lagi kumentap warnawarni bidadari Tak bisa lagi kumengukir rupa kekasih sejatiku Sebab kau Telah menjelma menjadi Setan yang begitu indah didalam hatiku

Pendosa

Kerinduan ibarat seutas tali Semakin kuat terikat Semakin kuat jalinan nadi Pun malam ini Aku terbaring dalam alangalang mimpi Tak kuasa untuk membangunkan diri Sebab ingin kutemukan disini Cinta disebuah kuburan yang sepi. Oh tuhan Oh kekasihku Biarkan aku bernyanyi malam ini Menyanyikan kerinduan periperi Terbuai dalam khayal Dan mati bersana sepenggal harap. Salam pencintamu Sang pendosa

Sisa September

Image
Lupakan itu Disetiap mayangnya sabit Rambu diatas jalan Menguning Lalu hening Hingga kupetikkan bunga terindah Tak kau jumpai diantara musimmusim Bahkan disyurga sekalipun

Regina

Kemarau mennyaksikan Sebuah janji Diantara rintik hujan Sayap sayap bidadari Basah Dibulan september Kepingan bulubulu Mengkerut satu persatu Lalu semuanya Tertidur pulas Dewa dewi menggerutu :Kemana perginya si ratu? Mungkin Dunia lebih baik untukmu Regina.

Sebuah Tanya .

Panjang Dihisap Lalu dibuang Tangkai Tergeletak Menghias piring Mau ku apakan Sebuah kenikmatan Habislah kubuang Sekalipun ajaran tentang kebaziran Tetap menjadi kehawatiran Bagi mereka Para pecinta kepercayaan Tanpa pernah melihat Apa yang diyakini

Dakwah Nada

Image
Jikalau musik menjadi intuisi Wajarlah Harmonika berciuman dengan bibir Seperti sepasang merpati yang bercinta diatas gereja Lalu terbang dan hilang seperti fatamorgana Ini tentang nada Diantara basik musikalisasi Dimainkan dalam bentuk perkusi Hadirkan senyum berseriseri Ditiap ketukan lagu harmoni Lepas itu tersenyum Dan pergi menangis sendiri Bagaimanakah bentuk nada Kekejaman tanpa bekas luka Adakalah bola matanya Hingga tak mampu melihat tangisan dewa dewi Bagi para kiyai Ditiap tasbih yang berputar kesana kemari "Nada dirasa lalu dinikmati. Dipercayai lalu disembahi" Begitulah katanya ditiap dakwa sore hari Bajingan Musik sialan

Hanya secarik Puisi

Jika terlalu sulit kubahasakan puisi Lalu bagaimana baitbait bisa dimaknai Sejenak saja. Pada dinding hati. Kuhaturkan tanya. Mengapa awan hadirkan hujan? Mengapa pohon hadirkan dedaunan? Mengapa air hadirkan kesejukan? Mengapa manusia dihadirkan? Mungkin cerita rakyat sudah kau diperdengarkan oleh para leluhur untukmu Dan kau percayai meski sekedar cerita ilusi Tak bisa dijelaskan logika Namun benar adanya Beginilah caraku Mengais air lidah sendiri Untuk yang aku cinta Tak pernah kujumpa Halayak orang gila kubertanya Namun mereka tak pernah melihat kau siapa Anehnya mereka juga percaya Kukirim surat lewat merpati Untukmu Sayangku Jika kau terlalu sibuk Waktu waktu itu membunuh harimu Aku akan menunggu Dan aku ingin berjumpa Diantara wewangian si jannati Sebab tak kuasa jika aku bertemu didepan teriakan anjing

Kidung Penyair

Image
Detik perdetik Tik tik tik Penyair mulai membaca puisi Diringi melodi melin Tik tik tik Penyair selesai membaca puisi Berjalan keluar dari panggung. Tik tik tik Mati.

Suara Goa

Image
Saudara saudarakuu Apa yang akan kita  berikan untuk negeri ini ? Apa yang akan kita lakukan untuk negeri ini ? Dan apa yang akan kita persembahkan untuk negeri ini ? Tiadakah kita sadar Dunia teknologi sudah menjajah generasigenerasi Zaman sudah diganti peradaban modernisasi Kepedulian sudah mulai memunah Keadilan sudah binasa Karena hukum Hanya lambang kebanggaan saja Saudara saudaraku Tiadakah kita sadar ? Kita sudah dijadikan anjing peliharaan Patuh kepada coretancoretan Namun tetap saja kita Nol Besar Katanya Kita ingin maju Kita ingin di akukan Kita ingin perubahan Kita ingin perbaikan Dengan cara menindas ke bawah Dan yang atas memerintah Dunia kita sekarang raja pemerintahan yang mementingkan masadepan Dan masa kini dikebelakangkan Saudaraku Tiadakah kita sadar Kita lahir dari penikmat cinta Dari Secuil air mani yang menjijikkan Lalu apa yang kita banggakan Bukankah kita sama Tidak ada pembeda Lalu kenapa kita masih saja membagakan diri kita ...

Perpisahan Termanis

Image
Musim penghujan Kulepas kau ditabir cinta Lewat surat Pada saat matahari bermuka dua. Dan malam menjadi endingnya. Selamat berpisah sayang

Harmoni Nostalgia

Image
Lama sudah bumi berputar Menyisakan kepingan cerita Diantara jembatan tua Dengan krikil kecil yang tersenyum Mengabadikan momen kala itu Kau dan aku Membuat cerita ketika siang Terik sinaran mentari menjadi potret masa itu Aku bersandar di bahumu Sambil tersenyum kau berkata :mari pulang, nenek sudah menanti dengan masakannya. Kakiku bergetar Meronta untuk melangkah Namun bengkakan di pergelangan Membuat anganku menjadi asa Kita berdiskusi Bagaimana cara untuk bisa pulang Perlahan Kau Membangunkan tubuhku yang masih asik duduk diantara kerikil dan bebatuan Lalu kau bungkukkan badanmu Kau lagi-lagi berkata : mari kudgendong biar bisa pulang Aku tersenyum Kau tersenyum Kita menikmati setapak demi setapak jalanan sawah Di kerumuni rerumputan liar Dan pada akhirnya Bukan makanan yang kita dapatkan ketika masuk ke halaman rumah Melainkan omehan nenek tua dengan congkaknya Lalu kita diam Tertawa lepas bersama Dasar moment sialan.

Wajah Bulan

Diatas langit Dibawah bulan sabit Dibawah secuil cahaya bintang yang hanya satu Tempat cahaya menginai gersang rerumputan Mengabadikan angin Menggoyangkan pepohan berhias daun nan hijau Seperti tarian memanggil hujan Turus suara tuan muda Dihela nafas terahir Menghilir kepelupuk dada Mengehentak lalu hening Sepi Angin mencoba menangkap ruapanya sendiri Begitulah akhirnya Sampai tak ada lagi yang perlu dipertanyakan.

Heninglah Hati

Kuasingkan diri sejenak Biar aku lupa pada keramaian Juga Sampan yang akan membawaku ke tepian sungai Disana Aku memilih hening Merenung Membuta Mencoba melukis puisi Tentang ranting nada tua Setelah itu Kutinggalkan saja coretan pada dinding batu yang kulukis Kulempar ketengah Biar tenggelam bersama keruhnya air

Nada Cinta

Kidung tanah gersang Lambaian bibir membatu Meraung Menanti melodi Kepekaan menuntut irama Senar muda Melantunkan nada Do.... Mi.... Sol.... Regina terengah Nafas yang bergulat dengan busur Menghantam baitbait cinta Hilang!

Palestin

Serdadu merayu Pedangpun di suguh Panglima meminang darah langit biru Terbengkelai busur panah menembus dagu Tepat, Sepah, lumpuh tak bergerak Hening, kutilah, tak bernyawa Mahkota ritma sahaja.

Cinta Tanpa Rupa

Berulangkali aku jatuh cinta pada kata Yang di kumandang oleh bibirbibir tua Dengan mata yang meyakinkan Membuat sejuta tipuan Agar rasa tetap dijalannya Lagi lagi aku jatuh cinta Pada wajah tanpa rupa Aneh memang jika difikirkan secara logis Tapi beginilah adanya Cinta jatuh cinta lagi Ah cinta tanpa rupa Bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu tanpa pernah berjumpa Bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu lewat kata saja Sekarang aku bukanlah aku Seperti tersesat disemak belukar Mencoba untuk keluar namun tetap saja tangan rerumputan mencegahku rasanya Bukan maksudku untuk melukai hatimu Tapi Rendah hati kukatakan Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu seutahnya Sebab cinta tanpa rupa Bukan caraku untuk bercinta Cukup kuberikan separuh ragaku saja Tidak mungkin seutuhnya Tolong jangan mengeluh Itu saja sudah cukup untukmu dariku Maaf kasih keraguan masih meracuniku rohaniku Maaf

Hanya Risalah

Bersenandunglah hati Lirihkan intuisi harmoni Jadikan kelam serta angan memudar Hingga tak ada lagi cerita burungburung yang tak bisa terbang Bersenandunglah hati Biarkan fana serta fatamorgana menangisi alangalang Hingga rohani tak lagi memecah dirinya Nyanyikan untuknya Hanya untuk dia Baitbait cinta Di iringi irama syurgawi Dan jangan lupa untuk menaruh melati di kantung jasmu sebelah kanan.

Belum Ada Judul

Lupakan itu Disetiap mayangnya sabit Rambu diatas jalan Menguning Lalu hening Hingga kupetikkan bunga terindah Tak kau jumpai diantara musimmusim Bahkan disyurga sekalipun

Menuntut Janji Tuhan

Image
Tuhan aku ingin hidup 1000 tahun lagi Dan sehari disisa umurku. Kita berdiskusi tentang "Neraka mana yang pantas untukku?".

Selaput Hawa

Image
Abdomen pagi menanti Ilalang taman pengunjung sepi Angin gusar bersengketa dengan awan Membenarkan kepunyaan Pertengkaran Terjadi Nampak cantik buah merah yang meranum Dari jauh layaknya jamrah Tak bertuah Absurditas membenarkan Tetap saja debat beradu Kepala batu Tunggu selesai mandi dulu

Megariana 3

Mulai kutulis lagi Megariana Dipenghujung luka yang masih membekas Diatas cinta yang masih merdeka Diatas segalanya dirimu durga Siapa yang kejam. Meninggalkan satu sisi yang telah terisi Dikertas puisi Kata demi kata berlarilari Tanpa henti Mengejar sisi dari sisi Dengan iringan musik bali Aku bernyanyi Tentang kerinduan Pada dewaku yang hilang Di pantai selatan Megariana.

Wanita Sapu

Image
Langit adalah taman langit Surya menjadi bohlam Tepikan petang hingga kelam Awan biru berdarah merah Lihatlah Bidadari bersayap duabelas Terbangkan sehelai rambut Berayunayun dalam tarian Mata yang tertunduk Tangan terhias gelang hitam Jemari memegang tongkat Menatap Tatapan misteri Lekas ia pergi Belum sempatku bertanya Namanya Tentu saja indah Mungkin juga tidak Siapa yang tahu ? Kubiarkan saja hari pergi dan berganti hari lagi Bersamanya Bidadari taman 'Langit' Kuberi nama Wanita berdinding sayap Jangan ada tanya Sebab Akan datang lagi tanya Tentu terjawab mengapa Bukan karena Enyahlah Hari sudah tua Sampai jumpa Diperjumpaan Selanjutnya

Megariana 2

Image
Sepiku disini Mengecup ruang waktu diatas cahaya lampu Berbisikan kerinduan padamu Megariana Hinggap seperti kupu-kupu Melambaikan sayap diantara bunga mawar Buatku melambung disisi tuturan mimpi serta harapan Tak ingin kumencari jejak diantara bunga yang mengering Siring waktu yang membuatku mengerti sayapsayap janji Sesungguhnya. Malam ini adalah malam Menjadikan hati dan logika tak bisa berkawan Ruang dan waktu yang kosong Telah memecah rembulan menjadi sabit Kau adalah keindahan wanita Pada dunia yang tertegun oleh bayang sirna tentang september Berharap pada waktu ini (23:48) Sebelum 17 pergi diganti 18 Masih adakah bidadari dengan sayap merah yang tersisa untukku Ini hanyalah gumaman malam Yang kulepas bersama rerumputan didepan kampus yang berlakukan jam malam Megariana_gadistanpamata.

Cinta Dalam Geduh Kopi

Seraut wajahmu kasih Masih menghujam diantara aliran darah disetiap nadi Mengental Menjatuhkan air mata yang belum siap untuk keluar Direlung kesunyian. Teramat kusadari bayangbayang suasana jahanam Diantara pepohon yang sujud. Diantara nyanyian ombak kala sore itu Ketika matahari menuju senja Menjadi saksi kecil saat kucium kening kecilmu. Apakah aku yang salah atau memang waktu yang salah. Kita duduk diatas kereta kuda seperti pengantin. Berjalan menuju singgasana yang semua orang rindukan. Tapi tiba saja kau bilang sampai disini.? Siapa yang salah ? Matahari mulai mematikan diri Kau diam Aku diam Dan bibir mungilmu berbisik ditelinga kananku tanpa kusadari. :aku hanya bercanda, tidak mungkin aku pergi meninggalkanmu sedang sayapku masih kau peluk erat sayang.

Belum ada judul

Image
Mungkin malam lebih mengerti Sejatinya hati Berusaha menenangkan diri Pun risalah yang silih berganti Menghujam Bertubitubi Lalu kembali kebui Pupus merpati Klise menepi Hanyalah kata Akan tetap menjadi kata Demikian juga sebutir tinta Jika tergores maka menodalah dia Mau kau apakan sekarang Jika memang kehendakmu Tak bisa kau capai Mulailah kau bertentangan dengan dia Hanya sebagai pengingat Mungkin teh lebih baik buatmu daripada kopi.

Elegi

Image
Sengaja kutulis Dalam bentuk metafor Agar kau sedikit membayangkan Bagaimana kata Menjadi pembunuh Jiwa Inginku terangkan padamu Meski gelap tanpa lampu Malam ini Kicauan burung Menangisi diri sendiri Ditinggal pergi Dalam aroma kematian Hidupku Haanya sebuah tulisan tuhan Dibingkai dalam duka Lara Asa Fatamorgana tentang kasih dan sayang! Yang masih kuraba dan terka Anggap saja aku sedang berdongen Ibarat daun yang jatuh dari ranting pohon Lalu kering Mati Dilindas angin yang silih berganti Tapi Aku adalah mimpi tuhan Diberikan dalam bentuk ketiadaan Dalam bentuk kesepian Dalam bentuk kecurangan Dalam bentuk kekurangan Yang diberikan tuhan untukku Beginilah cerita Didalam risalah sebuah hati Yang Kuedingkan Berasama alur yang masih menjadi misteri

Pendosa Merindu Syurga

Image
Malam berselimut kabut luka Menghantam pelipis kiri Berdarah tak terarah Membekas bagai lukisan rindu. Malam berganti malam Dingin membakar hati Mengais sukma didalam birahi Lepas itu pergi. Malam berkelut bayang petang Memelas kasih diatas sana Cempaka menghujam maut melayang Dihajar setangkai bunga mawar. Hilang

Ranting Tua

Image
Sayang Sampai kapan Kata akan bergulat dengan kata Tidakkah kebosanan itu hadir sendiri Senantiasa menjadi khitbah perpisahan Jikalau waktu datang pada masa Apakah waktu akan bergulir sendirinya Sedang masa adalah waktu Klise keharmonisan Antara satu jiwa yang dulunya berbeda Namun sekarang seagama Bukan kutakbisa lagi menulis Baitbait kosong Hanya saja aku tak tak tau lagi bagaimana harus kumunafikan diri sendiri Perjumpaan kita Selalu menjadi intuisi dalam liriklirik lagu Namun Jika memang kau rebah Dan pergi Jangan pernah menatap bidadari Nanti kau berselesih Hanya karena kerutan diantara mata, bibir,  kening, dahimu sudah hilang dan berseri kembali Jalanmu akan kembali seperti regina Kau adalah hipnotis keindahan dunia Disini Rumah tua yang selalu kita singgahi Pernak pernik dapur masih tersusun rapi Tak kau jamah lagi Mungkin takdir ilahi Bila sore nanti Kau tak jumpai ragaku disebelah tubuhmu Jangan usap mutiara airmata dari kelopaknya Percayal...