Ranting Tua
Sayang
Sampai kapan
Kata akan bergulat dengan kata
Tidakkah kebosanan itu hadir sendiri
Senantiasa menjadi khitbah perpisahan
Jikalau waktu datang pada masa
Apakah waktu akan bergulir sendirinya
Sedang masa adalah waktu
Klise keharmonisan
Antara satu jiwa yang dulunya berbeda
Namun sekarang seagama
Bukan kutakbisa lagi menulis
Baitbait kosong
Hanya saja aku tak tak tau lagi bagaimana harus kumunafikan diri sendiri
Perjumpaan kita
Selalu menjadi intuisi dalam liriklirik lagu
Namun
Jika memang kau rebah
Dan pergi
Jangan pernah menatap bidadari
Nanti kau berselesih
Hanya karena kerutan diantara mata, bibir, kening, dahimu sudah hilang dan berseri kembali
Jalanmu akan kembali seperti regina
Kau adalah hipnotis keindahan dunia
Disini
Rumah tua yang selalu kita singgahi
Pernak pernik dapur masih tersusun rapi
Tak kau jamah lagi
Mungkin takdir ilahi
Bila sore nanti
Kau tak jumpai ragaku disebelah tubuhmu
Jangan usap mutiara airmata dari kelopaknya
Percayalah
Disini aku selalu merindukanmu
Seperti aku merindukan tiap jemari lusuhmu
Menenangkan tangisan pada saat takbir ramadhan
Katamu
"Ada aku, jangan terlalu larut dalam dunia dongeng yang kau bangun dengan benci, berbenahlah dan tersenyum"
Tentu saja
Tiap bait puisi ini seperti arloji
Berputar kesana kemari
Sayang
Jelmaanmu sudah kutemukan
Dalam dunia kampus dan pembodahan
Disanalah perjumpaan terjadi
Bersama dia yang kupercaya
Namun terhalang oleh tembok syurga
Mungkin nanti
Mungkar dan nakir akan menghancurkannya
Namun saat itu juga
Kau telah pergi
Biarkan kuusap keringat di pipi manismu
Biarkan kucium keningmu
Waktu telah memanggilku
Kembali pada dunia nyata.
Tenang sayang
Aku akan baikbaik saja
Disini kutemukan arti keluarga
Pada kekuatan lingkaran
Kesejatian
Jika kita berjuma nanti
Telatnya dipadang mahsyar
Kenali aku dan kukanli dirimu
Aku akan berterikasih pada tulangtulangmu
Duhai sayangku
Kecintaanku
Aku milikmu
Sampai aku dan kamu lupa
Kita saling mencinta dan merindu
Senandung sendu
Kekasih sejatiku
Bagusss
ReplyDelete