Posts

Showing posts from January, 2018

Renggina Menghianti Tuhan

Ini aku. Hanya selembar kertas Coba mencari pena lewat bukit tertinggi Rencananya Ketika pena itu kudapat Aku akan mulai menulis sebuah puisi Bayangku Akan kubuat  4 bait puisi Terdiri dari 4 kalimat Lalu akan kuperhatikan penggunaan bahasa yang kugunakan Baik dari segi semantik maupun morfologisnya Ya, akan kuberikan juga sedikit metafor dan kusentuh ia dengan kajian pragmatik Agar salah satu dari kalian bertanya Makna puisiku ini apa sebenarnya. Setelah itu Aku akan memutar waktu ke zaman yang tak pernah dibayangkan oleh logika Lalu diam sejenak disana (5 menit saja). Kemudian kembali ke dunia nyata Tepat ketika semua orang sedang sibuk dengan pekerjaanya. Ini waktu menatap maju (Ucapku). Pena dan kertasku telah habis menjadi oretan. Saatnya kucetak dengan mesin ketik (supaya lebih menarik). Lalu kupajang ia di belakang pintu kamar. Dan ku ukir temannya dengan timesnewroman. Kuketik ia dengan ukuran 16 Agar terlihat sedikit tegas.    ...

Sebaris Cinta

:Mata coklat mencium hangat Ketika malam Kidugmu tentang arloji Ku simak hangat Layakn mentari yang sedang memeluk bumi Ini siang Aku menjawab cerita malammu Namun bukan tentang jam dan arloji sayang Ini tentang musim Yang kukirim saat siang menyapa Musim yang membuat semua nyawa Menjadi bernyawa Megariana Mataram 2017

Jangan Aku

Kau petang Dibawamu serumpun renggang Jelmaan dari anggur yang meranum Membiaskan cerita malam Lalu memipihkan ingatan Kemudian mengerucutkan kembang kehidupan Kau petang Tanpa duri kau menyapa Tanpa salam juga kau berkata Dikubur seberang jalan Kisah percintaan kita Hanyalah bayang-bayang.

Nonsense

Semilir angin berhembus Meredam amarah diujung jalan Lewat tatap yang terbatas Renggang hanya menyimak hangat sebuah jarak Lalu perputaran waktu Memicu kemunafikan menjadi kalbu Mengekalkan hingga menjadi duka Sadarlah Yang kau lakukan hanya kesiasian Juga mimpimu itu

Elegi Musim Penghujan

Aku hanya sebuah risalah Berbentuk mimpi Didongengkan lewat hembusan angin yang membawa ragaku terbang ke sudut-sudut jendela kamar Lalu bersembunyi dipelupuk bantal Dan mati secara diam-diam.

Ketika Hujan

Dari bilik jendela Ku intip butiran hujan yang jatuh Lalu kuhitung satu persatu Mulai jam 16:30 sampai 17:08 Genangannya sudah sampai di kaki ranting tua Tetapi Ini hujan tidak seperti biasanya Ia datang dengan lembut, pelan, tenang tanpa kekhawatiran Suaranya begitu sendu Seperti melagu diatap rumah nenekku Dan kuartikan ia sebagai irama kesunyian Yang menari kala sore datang Dan menghilang Ketika ia mau hilang. :Hilang! :Megariana Bale Papuq, 7 januari 2018

Cerita Disela Isya

Cerita disela isya DihadirkanNya bersama seratus kunang yang jatuh Bergeletakan di pipi kanan Menghias mata Sedikit berawan Mungkin benar Khalayak sudi membanting nadi Mawar berduri hilang duri Daun jatuh meninggalkan ranting pohon Ini suara ketiadaan Yang bercerita tentang azan magrib ketika isya tiba Saat semua masih sunyi Hampa Burung-burung sudah disarangnya Dan semut sudah kembali kerumah mereka Namun Satu semut kehilangan arah Sebab gelap sudah terlalu membayang di langit malam Rembulan yang bersembunyi di tangan tuhan Meembuat dunia Tanpa cahaya Ia tersesat Hilang akal Pasrahnya menunggu izrail Sambil menggumam : Cahaya yang dulu membawaku menuju terowongan rumah telah pergi. Kini aku siap untuk mati :Megariana Bale Papuq, 6 Januari 2018

Opini

Biarkan hari ini di artikan oleh opini Entah berapa paragraf sekalipun Baik itu tentang matahari, Daun yang jatuh dari dahan, Kamar yang masih berantakan, Mata yang baru saja terbangun dari mimpi Atau pun bantal yang masih tertidur pulas Ya meski nyamuk terbang dengan congkaknya Pun belelang diatas atap yang masih bersembunyi Dan tuhan yang masih di relung nirwana Diamkan saja dia Jangan kau usik sebab hari akan murka Ini hari miliknya hari Jadi biarkan hari merambat siang Biarkan juga pagi menua atau mati Pastinya tanya akan bertanya Berputar kesana-sana Dan diam. : Apakah kau menjumpai cahaya lampu ketika pagi, siang, dan sore datang ? Apakah tidak ada jawaban untuk tanya yang bertanya ? Sayang kopi pahit sudah menunggu untuk di teguk Ingin cepat-cepat mengalir di kerongkongan Tentunya lidah akan menggerutu Namun ini akan menjadi jeda diantara opini dan hari Biarkan tanya bertanya lagi. :Sudah berapa paragraf (tanyanya) Entah mungkin baru satu kata (jawabnya) :...