Posts

Pobling

Haruskah kita menjadi sepenggal kenangan Hanya karena perbedaan kemauan ? Bersama keresahan Pintu hatiku tiba saja diketuk oleh keheningan "Ingin bertamu" ucapnya Untung saja sudah kupajang terlebih dahulu "Jangan masuk, tuan rumahnya sibuk" Ia pun pergi tanpan ucapan Kini, tafsirku hanya sekedar kafan Yang membungkus ingatan kita tentang keinginan Dan namaku telah terpampang Dalam nisan bertuliskan " Bapak Pobling, 6 Juni 2018"

Musim Semi

Kurayu secarik embun Dalam wadah kealpaan Daun-daun tak pernah luput menyimak rayuanku pada alam Harapnya, ada lilin-lilin ditepian telaga Memotret hangat sebuah percintaan Ketika para malaikat tidak sedang bertugas seperti biasanya. Mataram, 14 Mei 2018

Eang :Pesan singkat untuk puan yang hilang.

I/ Eang Bedil yang telah engkau wariskan kepada kami Cucu-cucumu ! Telah dicuri oleh kawanan penjajah Juga harta yang sudah engkau titipkan telah dirampas oleh segelintir perompak bedebah Dari persembuyian Suara sepatu mereka berdenting diteras rumah kudengar Hentakan kaki mereka semakin jauh Hilang Tanpa jejak. II/ Eang Maafkan Kami lebih memilih diam Lebih berteman dengan kebingunan Tak mampu untuk melawan Sebab takut akan hukum dan hukuman Itulah mengapa kami harus kalah sebelum berperang Dan kehilangan warisan yang seharusnya terjaga. III/ Tapi Eang Ada satu yang mereka lupakan Buku tuamu Ia terselip di tembok, dekat lemari lusuh, disamping pintu kamar Hanya itu yang selamat dari kehausan mereka. IV/ Dan kini Eang Buku tuamu akan coba kubaca Akan coba untuk kupahami apa isinya Meski tidak begitu banyak yang dapat kumengerti nanti Itu akan kujadikan bekal Lalu kusulam menjadi tameng Kemudian membalas perbuatan mereka dengan pusaka terahirmu Pastinya...

Sepasang Kekasih

I. Biarkan hari mendefinisikan dirinya sebegai cinta. Seperti ingatan yang menghitung minggu sampai sabtu. Berulang-ulang sampai ia bosan. II. Biarkan pula cinta mendefinisikan dirinya sebagai hari. Seperti matahari yang menyambut pagi, lalu diendingkan oleh malam. III. Bayangkan ! Jika setiap hari selalu membicarakan tentang cinta, kemudia hari berikutnya tanpa kata itu lagi. Mau kau apakan ? Lahirlah sebuah pertanyaan bukan ? III. Cinta dan hari adalah sepasang kekasih. Itulah definisi dari tanya yang berputar. Tamat. Mataram, 26 April 2018

Menanti Titik Jenuh

Pengap sudah Asap-asap kesepian menggumpal pekat Membumbung ke langit-langit Dibawanya secuil imaji Berharap tuhan datang bersama kereta kencana Bidadari yang serupa dengan wajah tuan dan nyonya berada disampingnya Lalu mendekat ke logika yang sedang kosong Dengan sedikit sentuhan Tuan dan nyonya mencari celah  untuk mengahapus dunia yang telah dibangun oleh benci Namun tidak juga ditemukan "Eheemm" Tuan dan nyonya terkejut Tuhan rupanya telah bosan menunggu Diajaklah tuan dan nyonya kembali Ke syurga yang tak pernah dirindukan. Mataram, 19 April 2018

Perjalanan Sebuah Senja

Merupakan aku dan kau Bergeges mencari senja Di padang yang basah oleh jingga Membenarkan kecintaan pada senja Merupakan aku dan kau Menuju ilalang jalan berumput Berair dan licin Menyemaikan nafsu Hanya agar senja tak kecewa Sebab kita ditunggunya begitu lama Merupakan aku dan kau Tiba dengan seruan nafas Menghela sebab kecewa Ah tuan senja Kenapa cepat sekali kau tidurkan matamu Kenapa cepat sekali kau di telan lautan Sedang aku disini Menanti perjumpaan denganmu Loang Balok.

Sesuat Nada untuk Ayah

Ini ruang penuh dengan terik Mengepul hingga menjadi asap Dalam prasadar Gitar tua yang bersandar di lemari nampaknya ingin dijamah Senar yang hanya tinggal 3 Menawaekan diri untuk menemani Lalu mengajak bencengkrama "Jika kumainkan nada mayor apakah akan menghadirkan nada kebahagiaan ?, Lalu bagaimana dengan nada minor ?" Tanyaku. Dia menjawab. "Kau mainkan saja nadamu, perihal rasa kau tahu itu" Dalam ketidak sadaran Aku mulai bernyanyi seperti anak kecil Mengalunkan nada dan melagu Lepas itu terdiam Berbisik pada hati. "Aku ingin bahagia seperti ini"