Posts

Showing posts from December, 2017

Hanya kau

Potret awan berlangit Mentari meranum di balik kanvas Kuas angkuh meraung jati Lili malu diam membatu Kerudung merah di meja bundar Berteman bingkai kuda putih Piring pecah Lantah Rebah Kicauan semu Berbatu :rangkul mawar berduri Mataram 12 september 2017

Selepas Hujan Reda

Petang sudah tenang Gerimis pun sudah kelam Hujan hanya meninggalkan genangan di lengkungan jalan Yang terkadang Sesekali ia merangkul pulang ingatan Sewaktu daun-daun berguguran Ketika senja datang melepas senyuman.

Kau lupa bumi

Sesungguhnya Aku sudah berbincang pada tuan Menyerahkan segalanya dalam bentuk persembahan Namun tuan diam Menepi bersama senja tuan Hingga kupilih menghilang Malah tuan bertanya kenapa ? Haruskah kujawab tanya tuan yang menggelikan. Tuan lupa Tuan berada di langit sedang saya di bumi Wajarlah tuan bertingkah seperti mandor bangunan.

Selasa Kliwon

Terangkan padaku arti selasa kliwon Agar aku tak ragu berjalan menyusuri kuburan Meski anjing melolong kesakitan Juga burung hantu yang bernyanyi diantara batu nisan Aku akan tetap berjalan Agar aku bisa beristirahat di syurga yang tak dirindukan.

Munajat Cinta Kaula Muda

Selaku kembang merah Mereka Begitulah dia Kaula muda dengan baris baris cinta Lewat ucapnya Tak sadar dia Dunia mulai tertawa Karna birahi sudah tak terkendali Rasapun Lepas landas ketika terbang Dan hancur ketika mendarat Beginilah sekarang Si Kaula muda dengan gaya sedemikian rupa Mengumbar selangkangan Membuka kenikmatan Supaya bisa disandang wanita idaman. Yang satunya lagi Diungkapkannya cinta dengan iringan musik jamaika Bergoyang diantara kata dengan bait bait indah yang puitis Lalu dikemas dan di dijadikan  bukti kesetiaan pada sang pujaan. Bagaimana para nisan pahlawan tidak penasaran Bagaimana dewi pertiwi tidak ingin hidup lagi jika begini Mungkin ini yang dinamakan Habis gelap terbitlah terang Namun terlalu terang-terangan Kemudian dipertontonkan Dan dijadikan  sebagai bukti kesetiaan padanya. Cinta kaula muda Dalam kamar berbintang lima Seperti pengantin baru berbulan madu Ditiap keramaian bangku-bangku taman dengan poster maria ozawa ...

Puisi Cinta

Bahwa aku Ingin tertawa lebih lama dari biasanya Agar tak ada lagi cerita diantara dedaunan yang jatuh Bahwa aku Ingin menghias rambut hitammu yang lurus Dan kujadikan hiasan di dinding kamarku Bahwa aku Ingin melupakan cerita diantara musim gugur Hingga kematian tak menjemputku Bahwa aku Mencintaimu Dalam jangka yang sampai saat ini masih kuyakini Meski yakin masih menjadi misteri Antara aku dan kau

Mencari Tuhan

Aku adalah bingkai-bingkai air mata Hadir dalam bentuk hujan Bersama kata yang kususun Agar dapat kau maknai Percikanku seumpama mengambil potret nada disetiap petikan para pendakwah Yang kusendiri tak tahu Apakah itu benar atau salah Ini ketiadaan berbentuk lukisan tak berupa Membuat mutiara hati resah lada setiap arah jarum jam yanv memuatari dunia Berputar tanpa arah dan tak kujumpai jua Rupa yang sebenarnya Kini aku Kau Dan kita Hanya meyakini dalam kata Seperti kita menatap pelangi Dan kita katakan ia indah bersama warnanya.

Sumpah Pemuda (28 oktober 2017, Mataram)

Sejarah menjadi kristal kehidupan Tonggak berdirinya cinta dan cita Berasama debu yang menafsirkan diri sebagai penyemangat kemenangan Berasama langit dan bumi yang menjadi saksi bisu sebuah kelahiranmu. Putra putriku. Jangan kau lupakan hari ini Dengan api membara kami wariskan padamu Sebuah hari dimana kebebasan menjadi impian sejati Dimana darah yang bercucuran akhirnya berarti Dimana air mata yang berguguran menjadi seruan kebahagiaan Dimana kuburan penuh tanpa nisan Namun Tak usah kau peduli Semua kulakukan untukmu. Putra putriku Hanya 3 bait yang bisa kutinggalkan untuk kalian Yang dulunya kami buat dan kami jadikan ikrar perkempulan Mata demi mata, Raga demi raga, Jiwa demi jiwa dalam satu rasa. Putri putriku Janganlah kau biarkan kebodohan menjadi budaya Janganlah kau biarkan penindasan menjadi lukisan dirumah kita Jangan hilangkan kepedulian hingga kalian saling menghina, menghujat, memaki. Jangan biarkan hukum menjadi lukisan yang terpampang didinding ka...

Dongen imaji

Sepenggal cerita Burung kakak tua Kibaskan sayap di ujung dahan Tanpa tunduk menghadap angkasa Memandang ke dasar langit yang berawan Ingin terbang (serunya) namun tertahan sinaran mentari Ditunggunya malam datang Dinikmatinya cahaya rembulan Dirindunya purnama :Aku ingin berlabuh dibawah sinar purnama, memandang dunia yang tam kunjung usai dengan lakonnya. Malam merebahkan matanya Dan dia masih terdiam :dunia khayal lebih indah dari dunia nyata.

Berpuisi

Terlukis warna disudut kanfas Dibingkai padang serumpun kota tua Terpampang jelas Tuan dengan kemeja putih Mencari kekasih tuan di ujung perempatan Bunga mawar terselip rapi di kantung kanan Payung hitam bersandar dijemari kiri Menanti kekasih dengan topi hitam dan sepatu kulit (tuan beli di kota paris) Tik tok...tik tok....tik tok.... Sudah berjam-jam Kerinduan tuan sudah di puncaknya Hanya saja lalu lalang kendaraan Membuat mata kaki tuan tak mampu melihat ke depan Hingganya kekhawatiran tuan tamukan Sebab takut tuan tak mampu mengenali kekasih tuan Dan kekasih tuan tak mampu mengenali tuan juga Tuan diam Dengan keringat yang mengepul Jatuh ke tanah hingga bias Dan tuan pun putuskan Menanti bersama bangku panjang dipinggir jalan Lalu berpuisi sembari menunggu Tik tok...tik tok...tik tok... 5 menit sudah berlalu Tuan tertawa Tersadar Ternyata tuan hanya berpuisi dari tadi Bukan menanti kekasih tuan

Insomnia

Ada waktu saat semua terasa hampa Meskipun masa coba mengingatkan lewat arloji Tetap saja jam dinding tua berputar kearah yang berbeda Logika sudah tersesat Mencari pelangi yang tak di impikan Dan kini Sebaris puisi menjadi teman berbincang Juga sebatang rokok di tangan kanan yang hanya tinggal latuk Membawa pesan lewat angin kala hujan Bahwasanya waktu adalah sesuatu yang tak nyata namun kenyataan Sebab ia tinggal di dimensi yang berbeda Jauh sebelum kapal menurunkan layar Lalu meninggalkan dermaga. Tuan masih sibuk dengan khayalnya.

Megariana 5

Aku merindukan namamu Disela detik yang kuhitung Bersama kopi hitam dipnggir taman kota Berteman dengan pena dan daun kering yang kutulis Rindu lebih ber-elegi (ucapku) Sepanjang bangku taman Bintang-bintang memberikan senyuman Sepercik cahaya rembulan rupanya cemburu Sebab kubisak indah namamu Megariana Lampu-lampu taman kota Menyimak hangat goresan penaku Lalu kunang-kunang mendekati Sambil tersenyum ia mengintip ceritaku :tentangmu Ia malu Lalu pergi membawa namamu (Senandung rindu kekasih sejatiku)