Posts

Showing posts from November, 2017

Aku bait.

Aku Bait terahir Tak kau baca Sebab bait pertama Lama kau reka Hingga waktu Dihisap masa Kau Diam membuta Coba berkata Satu kata Bait pertama Membuat kau tersesat Ditiap kata Kau Mulai menyukai Mulai memaknai Dan kau Terjebak di dalamnya Itulah aku Bait terahir Kau maknai Bait pertama.

Megariana 4

Ketika matahari di peraduan Gema suara tuts berlarian Berjejer Rangkul irama Tepatnya lusa (17:09). Ombak mainkan wajah Megariana Gadis remaja Tanpa mata Menyeru berdansa Mayor dan minor Terbang menuju nirwana Sontak durga bertanya Layakanya laut tenang Namun berombak. Megariana terdiam Diam (Sayang, gerimis mempercepat kelam).

Megariana

Sebab kaulah malam Belum bisa kulupa Uapan embun berjatuhan Seperti tangisan dewa-dewa mati Disana Terdengar sebuah jeritan Nelangsa kesepian Air mata diantara dedaunan Menyublin Jangan tanya mengapa Kau hanya akan menambah luka Dirusuk kananku yang tak berdoa Cukup tanam saja dalam kubur Sepertu aku Daun gugur

Merindu

Wahai gerhana Terangkanlah malam Agar keresahan jiwa terselip diujung dahan Lalu terbang layaknya angsa putih Merekah di bundaran sinaranmu Wahai gerhana Selipkanlah redupmu Diantara nyanyian subuh Agar hati tenang menumpuh jalan setapak yang berlumpur Tidak tenggelam dalam khayal Lalu mati di telan bumi yang fana :Hilang entah berantah kemana Wahai gerhana Kuartikan terangmu sebagai embun Yang hadir ketika malam masih muda Membawa kerinduan pada temaram Terbang mengelilingi sudut hati Membangunkan bunga (mawar) pada bulan september Wahai gerhana Tak ingin ku melukai sinaranmu Dengan ego yang masih membeku Keangkuhan yang masih menjadi keakuan :Padamu Sekerlip cahaya cinta Dalam tidur nyanyian mimpi Dalam kidung hari tua(ku) Bersama(mu) Kecintaanku Gerhana ditiang sabit Salip angan menjadi angin Menyusuri mahsyar yang luas Lalu berjumpa di rumah tua(baiti) Bersma angsa putih Jalan berlumpur Bunga (mawar) yang merekah disudut jendela Disaksikan pemuda-...

Perjalan Menuju Rumahmu

Perjalan Menuju Rumahmu Aku menyaksikan subuh datang. Lalu azan kudengar. Di relung langit, di pusaran badai, Tasbih para pendakwah masih berputar. Salawat pun tiba tanpa salam. Disambung matahari yang mulai menunjukan rupanya (Sedikit cahaya membias kepelupuk mata). Seperti delima merekah meruntuh hati. :Detik memakan detik. Menit di telan menit. Jampun berdalih. Aku masih hidup sebagai roda. Mencarimu dalam hening, dalam hati yang mulai meragukan keturunan, Dalam segala tanya yang ingin kulayangkan. Tapi sayang, sore  tiba saja menyenja. Membuatku harus kembali pada dunia nyata. Sebelum kopi pahit kudapatkan. Sebelum mata kaki ini benar-benar buta. Sebelum aku mendengar ombak bersahutan namun pasirnya tak terlihat. Kutitipkan pesan lewat sungai nil. "Aku ingin berjumpa denganmu di syurga".

Sekapur Cerita

Anggap saja bulan Pada setapak jalan Rerumputan liar Berkeliaran Lalu memberikan pelukan hangat Kepada embun yang berjatuhan Satu butir embun mengental Disehali daun rumput Ia menari Melagu Tergelincir Lalu jatuh Awan tertawa Lekas itu memeberikan senyum Bulan menyaksikannya Seperti pentas sebuah drama Pertunjukanpun usai Matahari menjadi ending segalanya :rumput terbangun, embun menyublin, awan berputar dan bulan menghilang

Resah

Sepotong garis jalan Menggiringkan roda ke sudut kiri Melewati kerikil kecil ...................... Hempasan angin menyertakan debu Menghantam kelopak mata Memudar seluruh pandang Menjadi abu .............................. Roda terus melaju Berliku Mencari sesuatu ................................. Tiba juga dia Sebuah sadar Tanpa perlu di undang ia datang Lalu mekar di kepala ........................ Sambil tersenyum Langit berbintang yang kupandang bersama sepinya jalan malam Menegaskan :Aku hanya sebuah onani bagi mereka penikmat cinta di atas dunia yang memerah lekas itu memutih!