Posts

Showing posts from March, 2018

Yang Tabir adalah Hujan

Apa katamu hujan Tiba saja datang Membumbung bumi yang fana Melingkari jagad serumpun dunia Menyebar diantara belukarnya akar pepohan Menuju dahan dan ranting tua Hingga lepah di pergelangan jalan Menitik layaknya air mata seorang ibu  yang sedang melagu Mengidungkan nyanyian kepada tuhan Bertanya akan kata hujan -mengapa engkau turun saat dunia sedang ingin tersenyum? Diam Hanya jawaban batu yang mampu membelai keresahan Lewat kebisuan Mungkin tertimbun jawab yang menyublin Sampainya peluru para malaikat menembus ke dalam rahang Tetap saja Jawabannya hanya diam ! Yang diperuntunkan hujan pada manusia yang kehilangan akal. Gebang, 17 Mei 2018

Diantara lagu

Sepi seperti biasa Hanya waktu luang yang menemani Saat jemari mulai memainkan senar pertama Melantunkan nada mi fa sol Diikuti satu bait pertama Kini nada mulai berirama Seperti kumandang azan yang kudengar diatas mega-mega Bergeser seiring intonasi yang mengintuisi Dan Puisiku pun sudah diujung tulisan Coba untuk mendefinisikan syair dan lagu Meski naif kurasa Tapi musik dan kata sudah menjalin cinta Bersatu dalam sendu Melagu dalam kemayuan Hingganya ia tinggal Tepat dipruh hatimu sayang. Mataram. 16 Mei 2017

Relung

Kita mengetuk nama masing-masing Meminta izin untuk bertamu Lalu kita berkenalan layaknya anak kecil Bertukar nama dan cerita :Masa telah berputar sayang. Kita menari di bawah bilik samping jembatan Melagu dibawah sinaran mentari "Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya........" Baru seperempat lagu kita nyanyikan Tuhan datang bersama bisikannya "Sayang, sudah waktunya, mari kita pulang" Kita berpisah di tempat itu Belum berucap satu kalimat Belum juga mengucap salam perpisahan Kita Sudah menjadi debu kenangan yang menganga Menyisakan rindu Tanpa bekas-bekas luka. Gunung sari, 1 Maret 2018

Kekasih Senja

Bukan sekali kesah itu datang untuk bertamu Kadang ia hadir menjadi mimpi Menyaran lewat syair dan lagu Sebagaimana mata yang tertutup dan hidup di dunia dimensi Kau, masih saja berayun di taman kota Menikmati senja yang masih menjingga Hingga malam tiba Kau usang dengan logika Tibalah jua penantianmu diujung harapan Hanya ada jarak dengan rayuan Tak mampu kau definisikan Cukup puisi yang mengintuisikan :Malam kita memang berbeda, Sayang. Gunung Sari, 1 Maret 2018